PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Alam semesta merupakan realitas yang
dihadapi oleh manusia, yang sampai kini baru sebagian kecil saja yang dapat
diketahui dan diungkap oleh manusia. Bagi seorang ilmuwan akan menyadari bahwa
manusia diciptakan bukanlah untuk menaklukkan seluruh alam semesta, akan tetapi
menjadikannya sebagai fasilitas dan sarana ilmu pengetahuan yang dapat
dikembangkan dari potensi manusia yang sudah ada saat ajali.
Di dalam perspektif Islam, alam
semesta merupakan sesuatu selain Allah Swt. Oleh sebab itu, alam semesta bukan
hanya langit dan bumi, namun meliputi seluruh yang ada dan berada di antara
keduanya. Bukan hanya itu, di dalam perspektif Islam alam semesta tidak saja
mencakup hal-hal yang konkrit yang dapat diamati melalui panca indera manusia,
tetapi alam semesta juga merupakan segala sesuatu yang keberadaaannya tidak
dapat diamati oleh panca indera manusia.
Alam semesta merupakan ciptaaan
Allah Swt yang diperuntukkan kepada manusia yang kemudian diamanahkan sebagai
khalifah untuk menjaga dan memeliharaan alam semesta ini, selain itu alam
semesta juga merupakan mediasi bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan
yang terproses melalui pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat Alam Semesta?
2. Bagaimana Alam Semesta dalam
prespektif Falsafah Pendidikan Islam?
3. Bagaimana
proses penciptaan Alam Semesta?
4. Apa Tujuan
dan Fungsi Penciptaan Alam Semesta?
5. Bagaimana
Implikasi penciptaan alam semesta terhadap pendidikan islam?
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Alam semesta
Hakikat alam semesta merupakan
fenomena yang ajaib. hakikat alam semesta sebagai wahana ilmu bagi
manusia. hakikat alam semesta mengajarkan kepada kita apa yang dapat
dijadikan pelajaran bagi manusia. alam semesta merupakan tanda dari kekuasaan
Allah. hakikat alam semesta adalah suatu ilmu yang mempelajari apa sebenarnya
fungsi alam semesta bagi kita, apa sebenarnya tujuan diciptakannya alam
semesta, apa manfaat alam semesta bagi kita dan lain-lain.
Dari Makalah hakikat alam
semesta ini menganalisis secara mendalam bagaimana kejadian dan awal proses
alam semesta ada. Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana
yang digunakan oleh manusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam
semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena
antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara
satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat
dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana
berinteraksi dengan manusia lainnya.
B.
Alam Semesta dalam perspektif Falsafah Pendidikan Islam
Alam dalam pandangan Filsafat
Pendidikan Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kata alam berasal dari
bahasa Arab ’alam (عالم ) yang seakar dengan ’ilmu (علم, pengetahuan) dan
alamat (مة
علا,
pertanda). Ketiga istilah tersebut mempunyai korelasi makna. Alam sebagai
ciptaan Tuhan merupakan identitas yang penuh hikmah. Dengan memahami alam,
seseorang akan memperoleh pengetahuan.
Dengan pengetahuan itu, orang akan mengetahui
tanda-tanda atau alamat akan adanya Tuhan.[1] Dalam
bahasa Yunani, alam disebut dengan istilah cosmos yang berarti serasi,
harmonis. Karena alam itu diciptakan dalam keadaan teratur dan tidak kacau.
Alam atau cosmos disebut sebagai salah satu bukti keberadaaan Tuhan, yang
tertuang dalam keterangan Al-qur`an sebagai sumber pokok dan menjadi sumber
pelajaran dan ajaran bagi manusia.
Istilah alam dalam alqur’an datang
dalam bentuk jamak (‘alamiina), disebut sebanyak 73 kali yang termaktub dalam
30 surat. 15 Pemahaman kata ‘alamin, merupakan bentuk jamak dari keterangan
al-quran yang mengandung berbagai interpretasi pemikiran bagi manusia.
Menurut Al-Rasyidin, dalam bukunya
Falsafah pendidikan Islam bahwa kata `alamin merupakan bentuk prulal yang
mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak dan beraneka ragam. Pemaknaan
tersebut konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad, Maha
Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Kemudian beliau menuturkan kembali bahwa
konsep islam megenai alam semesta merupakan penegasan bahwa alam semesta adalah
sesuatu selain Allah Swt.
Di dalam Al Qur'an pengertian alam
semesta dalam arti jagat raya dapat dipahami dengan istilah "assamaawaat wa
al-ardh wa maa baynahumaa"[2]. Istilah
ini ditemui didalam beberapa surat Al Qur'an yaitu: Dalam surat maryam ayat 64
dan 65
Dan tidaklah kami (Jibril) turun,
kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan
kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara
keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa (64). Tuhan (yang menguasai) langit dan
bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya,
Maka sembahlah dia dan berteguh
hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama
dengan dia (yang patut disembah)?
Dalam surat ar-rum ayat 22
ô`ÏBur
¾ÏmÏG»tƒ#uä
ß,ù=yz
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
ÇÚö‘F{$#ur
ß#»n=ÏG÷z$#ur
öNà6ÏGoYÅ¡ø9r&
öä3ÏRºuqø9r&ur
4 ¨bÎ)
’Îû
y7Ï9ºsŒ
;M»tƒUy
tûüÏJÎ=»yèù=Ïj9
ÇËËÈ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.
Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang Mengetahui”.[3]
Dalam surat al-anbiya ayat 16
$tBur $oYø)n=yz uä!$yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur $tBur $yJåks]÷t tûüÎ7Ïè»s9 ÇÊÏÈ
“Dan tidaklah kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang
ada di antara keduanya dengan bermain-main”.[4]
Dapat ditarik kesimpulan bahwa alam
semesta bermakna sesuatu selain Allah Swt, maka apa-apa yang terdapat di dalamnya
baik dalam bentuk konkrit (nyata) maupun dalam bentuk abstrak (ghaib) merupakan
bahagian dari alam semesta yang berkaitan satu dengan lainnya.
C.
Proses penciptaan alam semesta
Al Qur’an telah menjelaskan bahwa
sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya
mengikuti segala rencana dan konsep yang sudah tertera di dalamnya. Gambaran
jelasnya, bahwa semua proses alam semesta ini mengikuti dan merujuk pada segala
yang tertuang dalam Al Qur’an, apakah diketahui atau tidak tabir rahasianya
oleh manusia.
Dengan kata lain, kejadian dunia ini
adalah sebagai “cermin manifestasi” dan “kenyataan lahir” dari rencana Allah
yang sebenarnya sudah diberitahukan kepada manusia lewat Al Qur’an, sebelum
kejadian tersebut terjadi, dengan tidak ada tekanan apakah manusia mau atau
tidak memahaminya guna mendapatkan takwil isyarat-Nya.[5]
Mengenai proses penciptaan alam
semesta, Al-Qur'an telah menyebutkan secara gamblang mengenai hal tersebut, dan
dapat dipahami bahwa proses penciptaan alam semesta menurut al-Qur`an adalah
secara bertahap. Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah Swt dalam Surat
Al Anbiya ayat 30:
óOs9urr&
ttƒ
tûïÏ%©!$#
(#ÿrãxÿx.
¨br&
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
uÚö‘F{$#ur
$tFtR%Ÿ2
$Z)ø?u‘
$yJßg»oYø)tFxÿsù
(
$oYù=yèy_ur
z`ÏB
Ïä!$yJø9$#
¨@ä.
>äóÓx«
@cÓyr
(
Ÿxsùr&
tbqãZÏB÷sãƒ
ÇÌÉÈ
"Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.
Maka mengapakah mereka tiada juga yang beriman?"[6]
Apabila dikaitkan dengan sejumlah
teori seputar terjadinya kosmos menurut sains modern, maka konsep penciptaan
semesta yang tertera dalam Al-Qur'an tidak dapat disangkal lagi kebenarannya.
Dapat ditarik kesimpulan melalui
ayat-ayat diatas, yaitu: Disebutkan bahwa antara langit dan bumi (kosmos)
semula merupakan satu kesatuan lalu mengalami proses pemisahan. Disebutkan
adanya kabut gas (dukhan) sebagai materi penciptaan kosmos. Disebutkan pula
bahwa penciptaan kosmos (alam semesta) tidak terjadi sekaligus, tetapi secara
bertahap.
Al-Rasyidin mengungkapkan bahwa
Allah Swt menciptakan alam semesta ini tidak sekaligus atau sekali jadi, akan
tetapi melalui beberapa tahapan, masa atau proses. Dalam sejumlah surah,
al-Qur`an selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang dapat diterjemahkan
dalam arti enam hari, enam masa atau enam periode.[7] Adapun
ayat yang menceritakan tentang penciptaan alam dalam enam masa terdapat pada
surat yunus ayat 3 dan surat Al-Araf ayat 54 adalah:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit
dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur
segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada
izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah , Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia.
Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. dia
menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah
. Maha Suci Allah , Tuhan semesta alam”.
Dalam surat An-Naaziat ayat 27-33
menerangkan proses penciptaan bumi dan alam semesta.
“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah
Telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Dan dia
menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang, Dan
bumi sesudah itu dihamparkan-Nya, Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan
(menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya, Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan
teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”.[8]
Proses penciptaan alam semesta
diungkapkan dengan menggunakan istilah yang beragam seperti Khalaqa, sawwa,
Fatara, Sakhara, Ja`ala, dan Bada`a. semua sebutan untuk penciptaan ini
mengandung makna mengadakan, membuat, mencipta, atau menjadikan, dengan tidak
meniscayakan waktu dan tempat penciptaan. Dengan kata lain, bahwa penciptaan
alam semesta tidak mesti harus di dahului oleh ruang dan waktu.[9]
Terlepas dari perdebatan panjang
mengenai penciptaan alam semesta ini, maka Al-Qur`an telah menerangkan bahwa
alam diciptakan oleh Allah Swt melalui tahapan dan proses, dan tidak terjadi
sekaligus. Dalam hal ini pemakalah mengambil kesimpulan bahwa:
a. Alam semesta diciptakan oleh Allah secara bertahap dan
berproses
b. Asal mula penciptaan alam semesta berasal dari asap
c. Penciptaan alam semesta terbentuk melalui enam masa atau
enam hari atau enam periode
Dari keterangan di atas pemakalah
mengindikasikan bahwa keterkaitan tentang proses penciptaan alam semesta bagi
manusia dalam pendidikan, adalah manusia yang sudah mempunyai potensi dari
Allah Swt dalam mengembangkan potensi tersebut tidak dapat dilakukan secara
spontan,
namun harus dilakukan dengan proses dan
tahapan panjang melalui alam ini, sebagai sarana dan fasilitas yang
menghantarkan manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya.
D.
Tujuan dan Fungsi Penciptaan Alam Semesta
Dalam perspektif Islam, tujuan
penciptaan alam semesta pada dasarnya adalah sarana untuk menghantarkan manusia
pada pengetahuan dan pembuktian tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah Swt.[10]
Keberadaaan alam semesta merupakan petunjuk yang jelas tentang keberadaaan
Allah Swt. Oleh karena itu dalam mempelajari alam semesta, manusia akan sampai
pada pengetahuan bahwa Allah Swt adalah Zat yang menciptakan alam semesta.
Omar menjelaskan bahwa alam semesta
tercipta diperutukkan untuk manusia sebagai penerima amanah dengan menjadi
khalifah di muka bumi ini. Alam dapat menjadi sumber ilham melalui potensi akal
yang diberikan Allah swt kepada manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan
hakikat-hakikat yang terdapat di dalam alam semesta ini.[11] Lebih
lanjut beliau menjelaskan bahwa manusia akan memperoleh manfaat dan keuntungan
yang amat besar apabila manusia tersebut mampu dan mengerti dalam memanfaatkan
apa saja yang terdapat di alam semesta ini.
Manusia mengemban amanat dari Allah
Swt sebagai khalifah untuk mengelola bumi secara bertanggungjawab. Peran
penting yang diamanahkan kepada manusia adalah memakmurkan bumi (al ‘imarah)
dan memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan (ar-ri’ayah). Manusia mempunyai
kewajiban kolektif untuk mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan
seluas-luasnya umat manusia.
Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi
itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar
tidak punah sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.
Melihara bumi termasuk memelihara aqidah dan akhlak manusianya, memelihara dari
kebiasaan jahiliyah (merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat)
karena sumber daya manusia yang rusak akan sangat potensial merusak alam.[12]
Untuk lebih jelas bagaimana hakikat
dari tujuan serta fungsi penciptaan alam semesta adalah sebagai berikut:
Penciptaan alam semesta
bertujuan untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa Allah swt adalah Maha
Pencipta seluruh alam dengan segala kemuliaanNya dan segala kekuasaanNya.[13]
Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Dukhan ayat 38-39
“Dan kami tidak menciptakan langit
dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak
menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak
Mengetahui.”
Al-qur`an secara tegas menyatakan bahwa
tujuan penciptaan alam semesta ini adalah untuk memperlihatkan kepada manusia
akan tanda-tanda (ayah) atas keberadaan dan kekuasaan Allah Swt.[14]
Sebagaimana firmanNya dalam surat Fushshilat ayat 53, yaitu:
“Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka
sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah
cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Alam semesta diciptakan sebagai
bahan dan sumber pelajaran serta pengamatan bagi manusia untuk menggali
khazanah rahasia Allah Swt dengan akal dan pengamatan untuk dapat menyumbangkan
suatu kebajikan dan faedah manusia seluruhnya yang pada akhirnya manusia akan memahami
apa hakikat diciptakannya alam semesta ini. Hal ini tertera dalam surat Yunus: 04
“Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji
yang benar daripada Allah, Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada
permulaannya Kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah
berbangkit), agar dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan
yang mengerjakan amal saleh dengan adil. dan untuk orang-orang kafir disediakan
minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka”.[15]
Alam semesta diciptakan Allah Swt
untuk kepentingan manusia, untuk memenuhi kebutuhan manusia selama hidup di
permukaan bumi ini. Oleh karenanya alam telah ditundukkan oleh Allah Swt untuk
mereka, sebagai tempat tinggal bagi manusia, ini dimaksudkan agar manusia mudah
dalam memahami alam semesta dan tahu bagaimana cara memanfaatkannya untuk
kepentingan mereka. Salah satu ayat yang menerangkan akan hal ini terdapat
dalam surat Ibrahim ayat 33.[16]
E.
Implikasi penciptaan
Alam Semesta terhadap Pendidikan Islam
Islam menegaskan bahwa esensi alam
semesta adalah selain dari Allah Swt. Dia adalah al-Rabb, yaitu Tuhan Maha
Pencipta yang menciptakan seluruh Makhluk yang makro dan mikro kosmos.
Al-syaibany sebagaimana yang tertera
dalam bukunya Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam menjelaskan bahwa proses
pendidikan adalah menyampaikan sesuatu kepada titik kesempurnaannya secara
berangsur-angsur. Karenanya, implikasi filosofi terhadap pendidikan islam
adalah bahwa pendidikan islam merupakan suatu proses atau tahapan dimana
peserta didik diberi bantuan kemudahan untuk mengembangkan potensi jismiyah dan
ruhaniyahnya sehingga fungsional untuk melaksanakan fungsi dan tugas-tugasnya
dalam kehidupan di alam semesta.[17] oleh
karena pendidikan merupakan proses dan tahapan, maka pendidikan Islami akan
berlangsung secara kontiniu sepanjang kehidupan manusia di muka bumi ini.
Alam semesta adalah media pendidikan
sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh manusia untuk melangsungkan proses
pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri”
dengan sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan
dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini
butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam
semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.[18]
Meskipun alam diciptakan dan
ditundukan Allah Swt untuk manusia, bukan berarti manusia dapat mengetahui dan memahami
apa-apa yang terdapat dari padanya, karena sampai sekarang pun fenomena alam
dengan segala kerahasiaan Allah Swt dalam menciptakannya masih menjadi misteri
yang belum terpecahkan secara tuntas. Oleh dasar inilah Al-Quran mengajurkan
kepada manusia untuk terus menggali khazanah yang terdapat dari penciptaan alam
semesta ini. Anjuran dan kemungkinan untuk mempelajari alam semesta tertuang di
berbagai ayat-ayat al-Quran yang di antaranya:
Surat Yunus ayat 101
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan
di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi
peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
Dalam surat al-Ankabut ayat 20
Katakanlah: "Berjalanlah di
(muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari
permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi, Sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu.
Proses pendidikan menghantarkan
manusia untuk dapat memahami dengan benar tentang keberadaaan alam semesta
bersamaan dengan apa yang terkandung di dalamnya, bagaimana manusia mampu
menggunakan alam sebagai institusi dan objek dalam mengembangkan potensi yang
sudah ada.[19]
PENUTUP
A.
Kesimpulan dan Saran
Dari pembahasan di atas dapat di
simpulkan bahwa pada hakikatnya Allah swt sebagai pencipta dan sekaligus
sebagai penunjuk jalan bagi manusia (maha guru) Tuhan didalam menciptakan
manusia di muka bumi ini adalah semata-semata untuk mengabdi kepada-Nya dan
untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Dalam hal manusia dapat mengelola alam
semesta , maka manusia perlu mendapatkan pendidikan (Subyek pendidikan dan
sekaligus sebagai obyek pendidikan).
Dalam pemikiran filsafat pendidikan
Islami. Allah menciptakan alam semesta ini bukan untukNya, tetapi untuk seluruh
makhluk yang diberi hidup dan kehidupan. Sebagai pencipta dan sekaligus
pemilik, Allah mempunyai kewenangan dan kekuasaan absolut untuk melestarikan
dan menghancurkannya tanpa diminta pertanggungjawaban oleh siapapun. Namun
begitu, Allah telah mengamanatkan alam seisinya dengan makhluk-Nya yang patut
diberi amanat itu, yaitu MANUSIA. Dan oleh karenanya manusia adalah makhluk
Allah yang dibekali dua potensi yang sangat mendasar, yaitu kekuatan fisi dan
kekuatan rasio, disamping emosi dan intuisi. Ini berarti, bahwa alam seisinya
ini adalah amanat Allah yang kelak akan meminta pertanggungjawaban dari seluruh
manusia dalam menjalankan amanat itu.
DAFTAR PUSTAKA
An-Nahlawi,
Abdurrahman, Ushulut tarbiyah Islamiyah wa asalibiha fil baiti wal madrasati
wal
mujtama` terj
shihabuddin
(Beirut: dar al-fikr al-mu`asyir, 1983)
Al
Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam, Membangun Kerangka Ontologi,
Epistimologi, dan
Axiologi Praktik
Pendidikan
(Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008)
Al-Syaibany,
Omar Mohammad Al-Toumy terj Hasan Langulung, Falsafah Pendidikan Islam
(Jakarta: Bulan Bintang, 1979)
Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemah, Bandung: Diponegoro, 2005.
Nurcholish
Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina,
1992),
Syam,
Mohammad Noor, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filasafat Pendidikan Pancasila
(Surabaya: Usaha
Nasional, 1986)
Zar,
Sirajuddin, Konsep penciptaan alam dalam pemikiran Islam, Sains dan AlQur’an
(Jakarta:
Raja Grafindo
Perkasa, 1999)
Zuhairini,
dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1991)
HAKIKAT ALAM
DALAM PRESPEKTIF ISLAM
Makalah
ini diajukan
untuk
memenuhi tugas mata kuliah
FILSAFAT
PENDIDIKAN ISLAM
Dosen
Pengampu: Prof. Dr. H. JAMALI SAHRODI, M.Ag
Oleh:
ADI
MISKADI
(141406310036)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
Jl. Perjuangan
Sunyaragi By Pass Cirebon 45132 Telp. (0231) 8491641
[1]
Zar, Sirajuddin, Konsep
penciptaan alam dalam pemikiran Islam, Sains dan AlQur’an, Jakarta: Raja Grafindo
Perkasa, 1999. Hal 65
[2] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemah,
Bandung: Diponegoro, 2005. Hal 247
[3] Ibid. h. 258
[4] Ibid. h. 324
[5]
Zar, Sirajuddin,
Konsep penciptaan alam dalam pemikiran Islam, Sains dan AlQur’an
(Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 1999), hal. 19
[6]
Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemah,
Bandung: Diponegoro, 2005. Hal. 247
[7]
Al Rasyidin,
Falsafah Pendidikan Islam, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan
Axiologi Praktik Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008)
Hal. 56
[8] Ibid. hal. 466
[9]
al-Syaibany, Omar
Mohammad Al-Toumy terj Hasan Langulung, Falsafah Pendidikan Islam
(Jakarta: Bulan Bintang, 1979) hal. 43
[10]
Nurcholish
Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina,
1992), hal. 289
[11]
Ibid. hal. 56
[12]
Syam, Mohammad
Noor, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filasafat Pendidikan Pancasila
(Surabaya: Usaha Nasional, 1986) hal. 74
[13]
an-Nahlawi,
Abdurrahman, Ushulut tarbiyah Islamiyah wa asalibiha fil baiti wal madrasati
wal mujtama` terj shihabuddin (Beirut: dar al-fikr al-mu`asyir, 1983) hal.
13
[14]
Nurcholish
Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina,
1992), hal. 277
[16] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan
Islam, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Axiologi Praktik
Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008) hal. 24
[17]
Ibid. hal. 35
[18]
al-Syaibany, Omar
Mohammad Al-Toumy terj Hasan Langulung, Falsafah Pendidikan Islam
(Jakarta: Bulan Bintang, 1979)
[19]
Zar, Sirajuddin, Konsep
penciptaan alam dalam pemikiran Islam, Sains dan AlQur’an (Jakarta:
RajaGrafindo Perkasa, 1999) hal. 22
Tidak ada komentar:
Posting Komentar