PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era
globalisasi dan era serba canggih ini, banyak sekali budaya asing yang telah
masuk ke dalam budaya kita, baik itu sesuai dengan budaya ataupun yang
melenceng dari budaya kita. Berbagai budaya tersebut sangatlah berpengaruh
terhadap perilaku kita. Apalagi budaya yang tidak sesuai dengan nilai – nilai
keislaman. Disamping itu telah banyak para manusia dalam mengejar kesuksesan
juga tak jarang manusia meninggalkan kewajibannya sebagai makhluk beragama.
Dikalangan para
intelektual lebih banyak memahami Islam sebagai ilmu pengetahuan bukanlah
sebagai agama. Artinya Islam hanya sebatas dipelajari dan dikaji sebagai bentuk
pengetahuan tidak sampai masuk dalam tataran pengalaman.
Dari deretan
fenomena diatas muncullah bingkai perilaku keberagamaan akibat adanya
kegersangan rohani, dan kekosongan spiritual karena tidak diposisikannya agama
sebagaimana semestinya yang seharusnya masuk kedalam sendi – sendi kehidupan
manusia.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian Perkembangan Keberagamaan?
2. Apa saja yang termasuk Ruang lingkup Keberagamaan?
3. Apa saja yang termasuk Indikator-indikator Keberagamaan
tersebut?
4. Bagaimana pengaruh Keberagamaan terhadap Prilaku
seseorang?
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Perkembangan Keberagamaan
Perkembangan dapat diartikan sebagai the progressive and
continuous change in the organism from birth to death (suatu perubahan yang
progesif dan kontinu dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati).
Perkembangan dapat juga diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh
individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturtion)
yang berlangsung secara sistematis (saling kebergantungan atau saling
mempengaruhi antara bagian-bagian organisme dan merupakan suatu kesatuan yang
utuh), progresif (bersifat maju, meningkat dan mendalam baik secara kuantitatif
maupun kualitatif) dan berkesinambungan (secara beraturan, berurutan, bukan
secara kebetulan) menyangkut fisik maupun psikis.[1][1]
Sedangkan keberagamaan yang penulis maksudkan di sini adalah
sifat-sifat yang terdapat dalam agama.[2][2] Atau dengan
kata lain keberagamaan adalah yang menyangkut segala aspek kehidupan yang
berkaitan dengan kehidupan keagamaan seseorang.
Keberagamaan dapat diwujudkan dalam sisi kehidupan manusia.
Aktifitas agama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual
beribadah, tetapi juga melakukan perilaku yang bernuansa ibadah. Keberagamaan
berkaitan dengan aktifitas yang tampak terjadi dalam hati seseorang.
Dari keterangan tersebut dapat penulis simpulkan bahawa
perkembangan keberagamaan adalah perkembangan yang bersifat sistematias dan
berkesinambungan yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan seseorang.
B.
Ruang
Lingkup Keberagamaan
Menurut Glock dan Stark sebagaimana dikuitip oleh Taufik
Abdullah, berpendapat bahwa keberagamaan muncul dalam lima dimensi diantaranya
dimensi ideologis, intelektual, eksperiensial, ritualistik, dan konsekuensial.
Dua dimensi yang pertama mencakup aspek kognitif keberagamaan, dua dimensi yang
terakhir aspek behavioral keberagamaan dan dimensi ketiga aspke afekstif
keberagamaan.[3][3]
Kelima dimensi tersebut dapat dibedakan dalam setiap
dimensinya meliputi aneka ragam dan unsur-unsur lainnya seperti dalam bentuk
keyakinan, praktik, pengalaman, pengetahuan dan konsekuensi-konsekuensi.[4][4] Adapun
penjelasannya sebagai berikut:
1)
Dimensi ideologis
Berkenaan
dengan seperangkat kepercayaan yang memberikan “premis eksistensial” untuk
menjelaskan Tuhan, alam, manusia, dan hubungan antara mereka. Kepercayaan dapat
berupa makna yang menjelaskan tujuan Tuhan dan peranan manusia dalam mencapai
tujuan itu (puposive belief). Kepercayaan yang terakhir, dapat berupa
pengetahuan tentang seperangkat tingkah laku baik yang dikehendaki agama.
2)
Dimensi intelektual
Dimensi
ini mengacu pada pengetahuan agama yang harus diketahui seseorang tentang
ajaran-ajaran agamanya. Peneliitan ini dapat diarahkan untuk mengetahui
seberapa jauh tingkat pemahaman agama para pengikut agam atau tingkat
ketertarikan mereka untuk mempelajari agamanya. Hal ini mengacu pada harapan
bahwa seseorang yang beragama minimal memiliki sejumlah pengetahuan mengenai
dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi
pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimanya, walaupun
keyakinan tersebut tidak perlu diikuti oleh syarat keyakinan. Seseorang dapat
memiliki keyakinan kuat tanpa benar memahami agama / kepercayaan atas dasar
pengetahuan yang sedikit.
3)
Dimensi eksperiensial
Dimensi
eksperiensial merupakan bagian keagamaan yang bersifat efektif, yaitu
keterlibatan emosional dan sentimentil pada pelaksanaan ajaran agama yang
merupakan perasaan keagamaan (religion feeling) sehingga dapat bergerak
dalam beberapa tingkat yakani; konfirmatif (merasakan kehadiran Tuhan
menjawab kehendaknya atau keluhannnya), eskatik (merasakan hubungan yang
akrab dan penuh cinta dengan Tuhan), dan partisipasif (merasa menjadi
kawan setia kekasih), atau wali Tuhan-Nya melakukan karya ilmiah.[5][5]
4)
Dimensi ritualistik
Dimensi
ritualistik yaitu merujuk pada ritualistik / ritus-ritus keagamaan yang
dianjurkan oleh agama dan dilaksanakan para pengikutnya. Dimensi ini terdiri
dari dua kelas penting, yaitu:
a.
Ritual
Mengacu pada seperangkat ritus,
tindakan keagamaan formal dan praktik suci yang semua mengharapkan pemeluknya
dapat melaksanakan. Ritual merupakan suatu bentuk drama dan oleh karena itu
merefleksikan kegembiraan dari satu ke yang lainnya.[6][6]
b.
Ketaatan
Ketaatan dan ritual diibaratkan air,
meski ada perbedaan penting, semua agama yang dikenal mempunyai perangkat
tindakan persembahan dan kontemplasi personel yang relatif.
5)
Dimensi konsekuensial
Meliputi
segala implikasi sosial dari pelaksanaan ajaran agama. Konsekuensi komitmen
agama berbeda dengan keempat dimensi di atas. Dimensi ini mengacu kepada
identifikasi akibat keyakinan praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang
dari hari ke hari, walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluknya
seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
C. Indikator-indikator
Perkembangan Keberagamaan
1)
Bidang akidah
Islam
menempatkan pendidikan akidah pada posisi yang paling mendasar, yakni
terposisikan dalam rukun yang pertama dari rukun Islam yang lima, sekaligus
sebagai kunci yang membedakan antara orang lslam dengan non Islam. Lamanya
waktu dakwah Rasul dalam rangka mengajak umat agar bersedia mentauhuidkan Allah
menunjukkan betapa penting dan mendasarnya pendidikan akidah islamiah bagi
setiap umat muslim pada umumnya.
Terlebih
pada kehidupan anak, maka dasar-dasar akidah harus terus-menerus ditanamkan
pada diri anak agar setiap perkembangan dan pertumbuhannya senatiasa dilandasi
oleh akidah yang benar.[7][7]
2)
Bidang ibadah
Tata
peribadatan menyeluruh sebagaimana termaktub dalam fiqih Islam itu hendaklah
diperkenalkan sedini mungkin dan sedikit dibiasakan dalam diri anak. Hal itu
dilakukan agar kelak mereka tumbuh menjadi insan yang benar-benar takwa, yakni
insan yang taat melaksanakan segala perintah agama dan taat pula menjauhi
segala larangannya.[8][8] Ibadah
sebagai realisasi dari akidah islamiah harus tetap terpancar dan teramalkan
denga baik oleh setiap anak.
3)
Bidang akhlak
Akhlak
merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran,
perasaan, bawaan, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak
akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.[9][9]
Dari kelakuan itu lahirlah perasaan moral (moralsence), yang terdapat di
dalam diri manusia sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik
dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna, mana
yang cantik dan mana yang buruk. Kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab,
jama’ dari “khuluqun” yang menurut bahasa diartikan sebagai:
budi pekerti, perangai, tabiat, adat
dan sebagainya.[10][10] Menurut
Erwati Aziz secara lughawi konotasi kata ini dapat berarti baik atau
buruk.[11][11]
Humaidi
Tatapangarsa mengutip Ibnu Ashir dalam bukunya “an-Nihayah” diterangkan
hakikat makna khuluk itu adalah “gambaran batin manusia yang tepat yaitu
(jiwa dan sifat-sifat)”. Sedangkan khalku merupakan bentuk luarnya (raut
muka, warna kulit, tinggi rendahnya tubuh)”.[12][12]
Dari
keterangan di atas dapat penulis simpulkan bahwa akhlak adalah adalah
perbuatan-perbuatan yang muncul secara spontan sebagai pencerminan keadaan
jiwa. Sedangkan perbuatan-perbuatan tersebut ada yang baik dan ada yang buruk.
Adapun
tujuan akhlak adalah agar setiap orang berbudi pekerti, bertingkah laku,
berperangai yang baik terhadap sesama manusia, terhadap sesama makhluk dan
terhadap Allah SWT. Yang pada akhirnya agar mendapatkan ridla dari Allah SWT (mardlatillah). Oleh karena itu dalam rangka menyelamatkan
dan memperkokoh akidah Islamiah anak, pendidikan anak harus dilengkapi dengan
pendidikan akhlak yang memadahi.[13][13]
D. Pengaruh
Keberagamaan Dalam Prilaku
Agama di Negara kita menempati urutan tertinggi dalam
tatanan nilai-nilai (sila pertama dalam pancasila) “ketuhanan yang Maha Esa”
karena agama hampir selalu dijadikan acuan utama
dalam setiap perilaku, baik individual maupun kelompok dalam setiap satuan
etnik, budaya, kelompok, keluarga, dan sebagainya.
Tentang perlunya agama menjaga moral
dalam penerapan ilmu, pandangan semacam ini telah diikuti oleh banyak ilmuan.
Moral agama hendaknya selalu hadir dalam setiap moment penerapan ilmu.[14][14]
Begitu tingginya penempatan agama dalam
tatanan nilai masyarakat kita, sehingga seakan-akan segala sesuatu akan
terselesaikan dengan agama (Indonesia tidak akan ketularan AIDS karena kita
adalah masyarakat pancasila yang menjunjung tinggi agama), demikian ucapan
seseorang tokoh nasional ketika AIDS mulai menjadi isu di Indonesia pada tahun
1980-an. Dan jika ada suatu hal yang tidak dikehendaki (Kriminalitas,
pelacuran, perkelahian pelajar, kenakalan remaja), cepat sekali orang menuding
kurangnya iman keagamaan sebagai biang keladinya.
Disisi lain, dalam kenyataannya banyak
sekali contoh pengaruh prilaku keberagamaan yang dibawah ini tentang ketidak
konsistenan agama dan perilaku, misalnya sebagai berikut :
1. Sebagian besar
wanita tuna susila yang beroperasi di berbagai lokalisasi pelacuran melakukan
ibadah keagamaan secara rutin dengan taat.
2. Kaum pria
pengunjung lokalisasi itu pun sehari-harinya dirumah diketahui sebagai ayah dan
suami yang taat beribadah bahkan mungkin menjadi panutan dikantornya.
3. Penghapusan
berbagai lokalisasi (karena tidak sesuai dengan agama), ternyata tidak
menghilangkan pelacuran itu sendiri (bahkan menyuburkan pelacuran) terselubung
yang sulit diawasi dan dikendalikan.
4. Remaja yang
nakal, ternyata tidak lebih menjadi baik setelah dipanggilkan guru agama atau
diberi les mengaji.
5. Kegiatan
keagamaan meningkat di kota-kota besar (semakin banyak tempat ibadah dan
semakin banyak pengunjungnya), namun angka kejahatan meningkat terus.
6. Hampir semua
pelaku penipuan dalam penyelenggaraan ibadah Haji adalah orang-orang yang sudah
bergelar haji.
7. Pendidikan
agama adalah mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah di Indonesia, tetapi
korupsi, kolusi, kriminalitas, perselingkuhan, dan sebagainya berjalan terus.
8. Dukun Datuk,
pembunuh sadis di Sumatra Utara yang telah meminta korban 26 wanita tewas dibunuhnya adalah seorang tokoh
agama dikampungnya.
Kenyataan lain, selalu mengajarkan
kasih, damai di dunia, berbuat baik sesama manusia, semua manusia diseluruh
dunia bersaudara, dan sebagainya, tetapi sampai hari ini tetap saja terjadi
berbagai konflik, perang, terorisme, pembunuhan, dan sebagainya yang dilakukan
atas nama agama sejak mulai perang Sabil di Eropa pada abad pertengahan sampai
perang dan terorisme di Irlandia Utara, Timur Tengah, Hosmia-Serbia, Hindia,
Srilangka, dan tentu saja di Indonesia sendiri.
Kenyataan-kenyataan tersebut menunjukan
bahwa agama tidak lagi dapat menjadi tali kasih dan perdamaian kalau sudah
bercampur dengan faktor-faktor lain seperti ekonomi, politik, identitas
kelompok, kebudayaan. Padahal, tidak ada agama di dunia sini yang seteril, yang
dapat dilepaskan dari faktor-faktor tersebut. Jadi, timbullah konflik peran
dari agama dalam kehidupan masyarakat. Disatu pihak agama diharapkan menjadi
peredam masalah-masalah yang dapat mengancam kehidupan masyarakat dipihak lain
agama itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari pengaruh faktor-faktor yang akan
diredamnya itu.[15][15]
PENUTUP
A.
Kesimpulan
keberagamaan berasal dari kata agama yang diartikan
sekumpulan peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk mengikuti peraturan tersebut sesuai kehendak
dan pilihannya sendiri untuk mencapai kebahagiaan didunia ataupun akhirat.
Keberagamaan
dapat diwujudkan dalam sisi kehidupan manusia. Aktifitas agama bukan hanya
terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual beribadah, tetapi juga
melakukan perilaku yang bernuansa ibadah. Keberagamaan berkaitan dengan
aktifitas yang tampak terjadi dalam hati seseorang.
Menurut
Glock dan Stark sebagaimana dikuitip oleh Taufik Abdullag, berpendapat bahwa
keberagamaan muncul dalam lima dimensi diantaranya dimensi ideologis,
intelektual, eksperiensial, ritualistik, dan konsekuensial. Dua dimensi yang
pertama mencakup aspek kognitif keberagamaan, dua dimensi yang terakhir aspek
behavioral keberagamaan dan dimensi ketiga aspke afekstif keberagamaan.
Indikator-indikator
perkembangan keberagamaan meliputi: aspek Aqidah, aspek Ibadah, dan aspek
Akhlak yang ke tiga aspek tersebut harus ada
dalam kehidupan seorang muslim.
Agama di Negara kita menempati urutan tertinggi dalam
tatanan nilai-nilai (sila pertama dalam pancasila) “ketuhanan yang Maha Esa”
karena agama hampir selalu dijadikan acuan utama
dalam setiap perilaku, baik individual maupun kelompok dalam setiap satuan
etnik, budaya, kelompok, keluarga, dan sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
Andrew.
M. Greeley, Agama Suatu Teori Sekuler, Jakarta: Erlangga, 1988
Daradjat.
Zakiah, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya Offset, 1995
Djamaludin.
Ancok, Psikologi Islam,PustakaPelajar,
Yogyakarta: 2011
Erwati.
Aziz, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, Solo: PT. Tiga Serangkai
Mandiri, 2003
Hartaty.
Netty, dkk., Islam dan Psikologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2005
Nipan.
Abdul Halim, Anak Saleh Dambaan Keluarga, Yogyakarta: Mitra Pustaka,
2001
Poerwadarminta,
Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustka, 1986
Roland
Robertson, Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologias, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 1995
Sarlito.
WirawanSarwono, Psikologi Sosial, BalaiPustaka, Jakarta: 2005
Syamsu.
Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2000
Taufik Abdullah, Metodologi Penelitian
Agama, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1989
Tatapangarsa.
Humaidi, Pengantar Kuliah Akhlak, Surabaya: Bina Ilmu, 1982
Sarlito.
WirawanSarwono, Psikologi Sosial, BalaiPustaka, Jakarta: 2005
PENGANTAR
PERKEMBANGAN
KEBERAGAMAAN
Makalah ini diajukan
untuk memenuhi tugas mata
kuliah
METODE PENGEMBANGAN
KEBERAGAMAAN
Dosen Pengampu: Dr. H.
ATABIK LUTFI, M.A

Oleh:
ADI
MISKADI
(141406310036)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCA
SARJANA
IAIN SYEKH
NURJATI CIREBON
Jl. Perjuangan Sunyaragi By Pass Cirebon 45132
Telp. (0231) 8491641
[1][1] Pengertian perkembangan ini bisa
dilihat dalam H. Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2002). Lihat juga dalam Netty Hartaty, dkk., Islam dan
Psikologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 14.
[4][4] Roland Robertson, Agama dalam
Analisa dan Interpretasi Sosiologias, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1995), hlm. 295.
[7][7] M. Nipan Abdul Halim, Anak Saleh
Dambaan Keluarga, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001), hlm. 95.
[9][9] Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam
dalam Keluarga dan Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 1995),
hlm. 10.
[10][10] Erwati
Aziz, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, (Solo: PT. Tiga Serangkai
Mandiri, 2003), hlm. 100.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar